Minggu, 30 Oktober 2011

Gedong Gincu, Mangga Termahal di Indonesia

Kalau Anda berkendaraan pribadi dari Jakarta ke Semarang atau sebaliknya pada malam hari, jangan tergiur untuk membeli mangga gedong gincu di perjalanan. Bulan-bulan Juni sd. Oktober, biasanya akan tampak kios mangga pinggir jalan berderet di Jatibarang. Jenis mangga yang dijual beragam. Kebanyakan mangga cengkir (indramayu), harummanis, manalagi kecil, golek dan gedong. Mangga gedong berbentuk bulat, berukuran kecil dan berkulit kuning cerah. Harga mangga gedong relatif murah. Kalau mangga harummanis kualitas baik saat ini berharga Rp 6.000,- sd. Rp 7.000,- maka mangga gedong bisa diperoleh dengan Rp 4.000- sd. Rp 5.000,- per kg.

Namun kalau mangga gedong itu bagian pangkalnya berwarna merah keunguan seperti bergincu, maka harganya akan melonjak menjadi Rp 15.000,- Saat ini musim mangga di Indramayu agak mundur. Biasanya bulan pada Agustus, harga mangga gedong gincu di Jakarta sudah turun ke tingkat Rp 13.000,- per kg. Namun sekarang mangga elite itu masih bertengger di harga Rp 20.000,- per kg. Ini merupakan pertanda bahwa suplai masih sangat terbatas. Kemungkinan besar puncak musim mangga di Indramayu akan berlangsung pada bulan September ini. Sementara puncak musim bangga di Pasuruan juga akan mundur ke bulan November.

Kembali kalau Anda lewat Jatibarang malam hari dan membeli mangga gedong gincu dengan harga di bawah Rp 10.000,- per kg, kemungkinan besar mangga itu merupakan gedong biasa yang benar-benar diberi gincu (lipstick) di bagian pangkalnya. Biasanya pedagang yang memalsu gedong gincu dengan gedong biasa ini akan memasang lampu yang kurang terang agar pembeli mudah terkecoh. Padahal, ciri gedong gincu sebenarnya bukan hanya melulu pada warna merah keunguan pada bagian pangkalnya. Ciri khas gedong gincu justru pada lekukan di bagian ujungnya. Sementara bagian pangkalnya justru membulat.

Sementara mangga gedong biasa, lekukan itu terdapat pada bagian pangkalnya, tempat tangkai buah. Bagian ujung mangga gedong biasa membulat tanpa adanya lekukan. Semakin nyata dan dalam lekukan pada ujung buah, maka tingkat kemurnian varietas mangga gedong gincu semakin tinggi. Karena adanya lekukan pada bagian ujungnya, maka mangga gedong gincu bisa diletakkan berdiri (bagian ujungnya di bawah) dengan sangat mudah. Sementara mangga gedong biasa hanya bisa diletakkan berdiri dengan posisi terbalik, bagian pangkalnya di bawah, ujungnya di atas. Itulah ciri paling mudah untuk membedakan mangga gedong biasa dengan gedong gincu.

Keistimewaan gedong gincu, sebenarnya bukan hanya pada penampaan fisiknya, melainkan juga pada rasa, tekstur buah dan aromanya. Selain manis, gedong gincu juga ada sedikit rasa asamnya. Rasa demikianlah yang sangat disukai oleh konsumen mangga universal. Tekstur buah gedong gincu lembut, namun tetap masih ada seratnya. Beda dengan harummanis atau gadung yang benar-benar manis dan tanpa serat. Sifat daging buah harummanis demikian sangat disukai oleh konsumen lokal, namun konsumen universal agak keberatan. Mereka menginginkan daging buah mangga yang sedikit masam dan agak berserat.

Aroma gedong gincu juga sangat kuat dan khas. Aroma demikian tidak terdapat pada gedong biasa. Aroma gedong gincu agak mirip dengan kensington pride dari Australia. Bedanya, ukuran kensington pride lebih besar. Satu buah bisa mencapai 0,5 kg. dengan warna kulit buah pink cerah, juga dengan gincu merah muda di bagian pangkalnya. Dilihat dari penampakan fisik kulit buahnya., warna gedong gincu lebih menarik dibanding kensington pride. Sebab warna kulitnya oranye "ngejreng" dengan warna gincu merah keunguan yang juga "ngejreng". Uniknya, bagian ujung yang berlekuk seperti lesung pipit itu justru masih sedikit menyisakan semburat warna hijau tua.

Ukuran kensington pride yang 0,5 kg. per buah, sebenarnya juga kurang disukai oleh konsumen universal. Mereka justru menginginkan ukuran gedong gincu yang bobot per buahnya hanya 0,20 sampai 0,25 kg. per buah, atau satu kilo isi 4 sampai dengan 5. Kelebihan mangga gedong gincu ini telah mengakibatkan konsumen asing sangat tergila-gila padanya. Sayangnya, sampai sekarang budidaya gedong gincu secara profesional dalam skala komersial belum dilakukan. Meskipun masih dalam skala luasan terbatas, budidaya harummanis secara komersial sudah dilakukan oleh banyak pekebun dan pengusaha.

Gedong gincu adalah varietas asli Indramayu, Cirebon, Majalengka dan Sumedang. Empat kabupaten ini saling berlomba mengklaim bahwa gedong gincu adalah varietas khas mereka. Padahal induk gedong gincu memang menyebar bukan hanya di empat kabupaten, melainkan lima. Tremasuk kabupaten Kuningan. Ciri-ciri fisik gedong gincu sudah jelas didiskripsi. Mulai dari bentuk tajuknya yang piramida tumpul, bentuk daun, warna pucuk, warna malai sampai ke ciri-ciri fisik buah. Menteri Pertanian RI telah melepas varietas gedong gincu ini pada tahun 1995 dengan SK No. 28/Kpts/TP.240/1/95.

Hingga sebenarnya, yang urgent saat ini bukan mengklaim asal-usulnya, melainkan membudidayakannya secara besar-besaran. Sebab harga mangga antara Rp 13.000,- pada saat puncak panen dan Rp 20.000,- pada saat panen biasa, merupakan harga tertinggi bagi varietas mangga Indonesia saat ini. Anehnya, masyarakat Indonesia saat ini justru tergila-gila pada mangga okyong dari Thailand. Di sentra penangkaran benih di Nganjuk, Jatim, okyong disebut sebagai mangga "keong". Jenis ini merupakan varietas kedua terbanyak yang ditangkarkan setelah harummanis.

Yang terjadi saat ini, bukan hanya kelangkaan komoditas mangganya, melainkan juga benihnya. Karena permintaan benih gedong gincu juga tinggi padahal produksinya terbatas, maka pemalsuan pun terjadi. Benih mangga cengkir, yang paling banyak diproduksi di Indramayu, dengan mudah bisa dijual sebagai benih gedong gincu. Pemalsuan benih gedong gincu dengan cengkir relatif mudah dideteksi dari bentuk daun. Yang paling sulit untuk dilihat kalau yang disebut sebagai gedong gincu adalah benih gedong biasa. Sebab ukuran dan bentuk daunnya sama, yakni sempit, pinggirnya berombak dengan lipatan tulang daun yang mendatar.

Kalau mau benar-benar aman membeli benih gedong gincu, lebih-lebih kalau volumenya besar, sebaiknya menunggu pas keluar pucuk daun. Biasanya keluarnya pucuk daun akan terjadi serentak. Pada saat itulah kita bisa membedakan benih gedong biasa dan gedong gincu dengan mudah. Sebab pucuk gedong biasa berwarna merah muda sementara pucuk gedong gincu merah tua agak keunguan. Kalau kita melakukan transaksi benih ketika keluar pucuk, maka pedagang atau penangkar tidak akan bisa menipu. Meskipun mereka akan tetap mengatakan benih gedong biasa itu sebagai gedong gincu. Pada saat itulah kita bisa dengan tegas mengatakan bahwa yang akan dibeli hanya yang pucuk daunnya merah tua keunguan.

Budidaya gedong gincu secara monokultur, sebenarnya paling menguntungkan dibanding mangga lainnya. Dengan jarak tanam 4 X 6 m. populasi tanaman per hektar 400 pohon. Dengan panen 50 kg. per pohon, maka hasil per hektarnya mencapai 20 ton. Kalau harga di tingkat petani Rp 10.000,- per kg. maka pendapatan kotor petani dari satu hektar lahan gedong gincu mencapai Rp 200.000.000,- Kalau lahan sawah berpengairan teknis di Indramayu ditanami padi dengan hasil 6 ton dan panen tiga kali, maka total hasil panennya 18 ton gabah. Kalau harga gabah dihitung Rp 1.500,- per kg, maka pendapatan kotor petani dari tiap hektar lahan sawahnya hanya Rp 27.000.000,-

Tentu ada pertanyaan, kalau hasilnya memang demikian, mengapa para petani di Indramayu dan sekitarnya tidak mau berhenti menanam padi dan menggantinya dengan gedong gincu? Yang menjadi masalah, mangga baru mulai belajar berbuah pada tahun III sejak tanam. Hasil panen baru bisa diharapkan pada tahun V. Padahal mulai dari tahun I sd. tahun V (selama lima tahun), petani harus mengeluarkan biaya untuk mengolah lahan, beli benih, pupuk, pestisida, membayar upah tenaga kerja dll. Nilainya bisa mencapai Rp 50.000.000,- Padahal selama lima tahun itu tanaman belum menghasilkan. Faktor inilah yang paling memberatkan petani untuk bisa mulai menanam mangga.

Tingginya harga gedong gincu, sebenarnya bukan melulu disebabkan oleh faktor suplai demand. Beda dengan gedong biasa yang bisa dipetik mentah dan diperam, maka gedong gincu harus dipetik masak pohon. Hanya dengan cara ini gincunya akan timbul. Kalau gedong gincu dipetik mentah dan diperam, maka warna kulitnya hanya akan kuning seperti gedong biasa. Gincu di pangkal buah, sebenarnya merupakan akibat dari sinar matahari. Karenanya, sambil memetik buah yang telah masak pohon, pemanen akan memetik (memangkas) daun yang menutupi buah. Sebab buah yang terhalang daun, tidak akan bergincu meskipun dipetik masak pohon.

Mangga gedong biasa, meskipun dipetik masak pohon tidak akan bergincu. Selain aroma dan rasanya yang juga berbeda dengan gedong gincu. Karena dipetik masak pohon, maka tingkat ketuaan gedong gincu bisa dijamin seragam. Petani tidak akan memanen gedong gincu yang belum tampak gincunya. Karena pola pemanenan demikian, maka wajar apabila gedong gincu menjadi mangga Indonesia termahal sampai saat ini. Tingkat kesulitan pemanenan ini semakin tinggi karena tanamannya tinggi-tinggi dan tidak terawat. Kalau gedong gincu dikebunkan dengan jarak tanam teratur, dipangkas pendek seperti halnya di Thailand, Australia, Meksiko atau Brasil, maka pemanenan bisa dilakukan dari atas traktor atau mobil pick up yang bergerak di sela-sela barisan tanaman.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

chitika